Sulitnya Menerima Kekalahan 23 Januari 2009
Posted by bewegaleri in Personal.Tags: hasil pilkada jatim, pilkada jatim
trackback
Aku bukanlah warga Jawa Timur, dan tidak ada kaitannya dengan Hasil Pilkada Jawa Timur. Namun, aku hanya mencermati pesta demokrasi rakyat tersebut. Mengapa Pilkada Jawa Timur yang sudah 2 kali putaran itu mesti diulang lagi?
Terlepas dari benar tidaknya ada kecurangan, hal tersebut menurutku lebih disebabkan sulitnya kita menerima kekalahan. Apalagi kalah dengan selisih margin yang relatif tipis. Apalagi hasil survey ada yang memenangkan salah satu pasangan, sedangkan hasil survey lembaga lain memenangkan lawannya.
Mengapa aku mengambil kesimpulan bahwa pengulangan Pilkada Jawa Timur terjadi karena perasaan sulit menerima kekalahan ? Sebabnya adalah ketika hasil Pilkada ulang masih belum “memenangkan” dia (mereka), masih saja pihak yang kalah menganggap bahwa proses pilkada masih belum bersih.
Lalu, apakah harus menunggu dia menang dulu baru akan menganggap jalannya pemilu jujur dan bersih? Selama dia masih kalah, Pemilu masih diwarnai kecurangan ? Inilah yang aku sebut sebagai sikap sulit menerima kekalahan.
Cobalah belajar dari kisah ini, bahwa sesuatu yang kita anggap “kekalahan” di masa kini, mungkin adalah jalan lain menuju “kemenangan” yang lebih besar nilainya yang telah diatur Allah untuk kita.

Iya mas. Saya yg tinggal di Jatim aja udah mulai gak semangat nyimak pilkada ini. Dulu sih sempat simpati dng salah satu pihak. Tapi sekarang sudah jauh surut.
Heran…padahal kalo kalah pun kan bukan berarti gak kebagian apa. Dikit-dikit ada dong pembagian kekuasaan dr yg menang (secara selisih cuma serambut gitu). Kecuali emang gak mau dikasih dikit-dikit…